Maryam Abu Daqqa: Jurnalis Foto Gaza Gugur, Liput Serangan Israel

Avatar photo

- Penulis Berita

Selasa, 26 Agustus 2025 - 19:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAZA, RAGAMHARIAN.COM – Dunia jurnalistik kembali berduka. Serangan udara Israel yang meluluhlantakkan Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, telah merenggut nyawa Maryam Abu Daqqa, seorang jurnalis foto berdedikasi untuk *Independent Arabia*. Maryam gugur saat menjalankan tugas sucinya, mendokumentasikan gempuran Israel dari gedung darurat rumah sakit tersebut.

Tragedi itu terjadi ketika dua serangan menghantam lantai empat dan lantai atas bangunan, sebuah lokasi yang ironisnya menjadi tempat berkumpul para jurnalis, pasien, hingga petugas pemadam kebakaran. Bersama Maryam, empat jurnalis lain juga turut gugur dalam insiden memilukan ini. Kepergian mereka menambah daftar panjang korban media yang tak terhitung.

Menurut data Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), jumlah awak media yang tewas selama konflik berkecamuk di Gaza sejak Oktober 2023 kini mendekati 200 orang. Angka ini mencatatkan rekor tragis sebagai korban terbesar dalam konflik modern, menegaskan betapa berbahayanya medan perang bagi para pencari kebenaran.

Dedikasi Jurnalistik yang Tak Goyah

Maryam Abu Daqqa bergabung dengan *Independent Arabia* pada tahun 2020, dan sejak itu, ia menjadi saksi mata tak kenal lelah atas berbagai operasi militer Israel di Gaza. Komitmennya tak diragukan; ia tak pernah absen satu hari pun sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023. Setiap pagi, dengan mengenakan pelindung tubuh, Maryam berpamitan kepada putra tunggalnya, Ghaith, sebelum berangkat meliput.

Meskipun Ghaith kemudian pindah ke Uni Emirat Arab demi keselamatan, Maryam dengan teguh memilih untuk tetap tinggal di Gaza. Baginya, tugas jurnalistik adalah panggilan jiwa yang harus terus dijalankan, apa pun risikonya. Ia kehilangan rumah dan peralatan kerjanya akibat perang, namun semangatnya tak pernah padam. Maryam terus mendokumentasikan realitas pahit di lapangan: mulai dari potret pengungsian massal, penderitaan kelaparan, kisah-kisah kemanusiaan yang mengharukan, hingga pemboman udara dan serangan darat oleh tentara Israel.

“Energinya tidak tertandingi dalam liputan media. Ia selalu hadir di setiap sudut dan setiap peristiwa,” ungkap Tahseen Al Astal, Wakil Ketua Serikat Jurnalis Palestina, mengenang sosok Maryam. Ia menambahkan bahwa kepergian Maryam merupakan pukulan telak bagi komunitas jurnalis Gaza. “Ia sangat dicintai rekan-rekannya. Semua mengakui bakat dan kegigihannya meski di bawah tekanan. Ia adalah panutan,” pungkas Astal, seperti diberitakan *The Independent* pada Selasa (26/8/2025).

Luka Pribadi di Tengah Tugas Mulia

Maryam tidak hanya bergulat dengan tantangan profesional di tengah konflik, tetapi juga menghadapi cobaan pribadi yang mendalam. Ibunya jatuh sakit parah dan meninggal di rumah sakit, ironisnya tanpa mendapatkan perawatan memadai akibat situasi perang. Kehilangan ini sangat memukul dirinya, menambah beban emosional yang ia pikul.

Lebih lanjut, dalam menjalankan tugasnya, Maryam bahkan pernah dipaksa memotret jasad rekan-rekan jurnalis yang gugur. Pengalaman traumatis itu meninggalkan luka mendalam. “Setiap kali saya memotret mereka, saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya akan bernasib sama, ataukah saya selamat dari pembantaian ini?” demikian kenangannya yang menghantui.

Kehilangan Maryam dirasakan sangat mendalam oleh keluarganya. “Dia lembut, peka, selalu membantu tanpa mengharap balasan,” ujar kakaknya, Sadik, dengan suara pilu. Ayahnya, Riad Abu Daqqa, tak kuasa menahan tangis saat memeluk jenazah putrinya. “Saya kehilangan putri yang paling berharga. Hidup saya terikat padanya. Ini kehilangan besar bagi kami dan bagi para jurnalis. Maryam adalah teladan kemanusiaan yang mulia,” ucapnya, menggambarkan betapa besar arti Maryam bagi mereka.

Akan Dikenang Selamanya

Dalam suasana hening yang menyelimuti Gaza, para jurnalis mengantar jenazah Maryam Abu Daqqa ke peristirahatan terakhirnya. Hanya air mata yang menyertai kepergian sosok yang begitu berani dan berdedikasi ini.

*Independent Arabia*, Persatuan Jurnalis Palestina, serta seluruh komunitas media yang lebih luas mengenang Maryam sebagai sosok dengan kreativitas, dedikasi, dan kepekaan luar biasa dalam setiap karyanya. “Saat kami mengucapkan selamat tinggal, kami menegaskan tekad untuk melanjutkan misi jurnalistik dengan independensi, imparsialitas, profesionalisme, dan keterampilan, sebagaimana yang dilakukan Maryam Abu Daqqa,” demikian bunyi pernyataan bersama jurnalis Palestina, sebuah janji untuk meneruskan warisan perjuangannya.

Berita Terkait

Luca Marini Cetak Rekor! Hasil Terbaik di MotoGP Hungaria 2025
Marini Terkejut! Honda Bangkit Pesat di MotoGP, Pujian Mengalir
Mercedes Jual Saham Nissan Rp5,3 Triliun: Dampak Bagi Industri Otomotif?
Kasus Eras: Penculik Pegawai Bank Diduga Tak Terlibat Pembunuhan?
PBB Kecam Serangan Brutal Israel ke Rumah Sakit Gaza: Korban Jiwa Membengkak
Larangan Sidang Tom Lembong: Pakar Hukum UI Angkat Bicara!
Haryanto Budiman Masuk Ring 1 AHY, Jabat Kepala Badan DPP Demokrat
Mantan Gubernur Maluku Utara Meninggal, KPK Tetap Sita Aset Korupsinya?

Berita Terkait

Rabu, 27 Agustus 2025 - 12:49 WIB

Luca Marini Cetak Rekor! Hasil Terbaik di MotoGP Hungaria 2025

Rabu, 27 Agustus 2025 - 09:26 WIB

Marini Terkejut! Honda Bangkit Pesat di MotoGP, Pujian Mengalir

Rabu, 27 Agustus 2025 - 01:29 WIB

Mercedes Jual Saham Nissan Rp5,3 Triliun: Dampak Bagi Industri Otomotif?

Rabu, 27 Agustus 2025 - 01:01 WIB

Kasus Eras: Penculik Pegawai Bank Diduga Tak Terlibat Pembunuhan?

Selasa, 26 Agustus 2025 - 19:11 WIB

Maryam Abu Daqqa: Jurnalis Foto Gaza Gugur, Liput Serangan Israel

Berita Terbaru

Food And Drink

Rahasia Rice Cooker Awet? Begini Cara Membersihkannya!

Rabu, 27 Agu 2025 - 15:28 WIB

Entertainment

Taylor Swift & Travis Kelce Resmi Bertunangan!

Rabu, 27 Agu 2025 - 14:26 WIB